It’s You.

I feel you.
Like you are Indigo by Yiruma.
Soft,
Sadden.
Touch my weakness.
Once,
Or maybe twice.
And it’s so you,
The way Indigo giving me only three minutes of it’s time.

Advertisements

In Time.

Why heart?

It’s not the fault of those moments.

It’s just the time,

That doesn’t fit in my timeline.


My friend once said,
“Relax, God is there with the prejudice of His servant.”

Foreshadow.

I wonder how,

The night goes only for me.

Many things,

Disappearing from my sight.

Becoming the unseen.

Even my shadow is not here with me.

Making me feel so alone.

Then,

Why still I can see in this darkness?


Photo source: I took it long time ago.
Mohon berikan nikmat terbaik-Mu wahai Zat Yang Maha Menyejahterakan, kepada berpasang-pasang mata lelah berbalut peluh diluar sana.

Opera.

A single monsieur coming by,

While my tears touching down the ground.

Without bonjour,

He then inviting me to dance.

I do feel like a princess for certain time.

But,
Maybe it is just a little show for him.

And I just woke up on the stage of opera.

Without applause.

Thanks for the sweet act, monsieur.


Terimakasih kepada-Mu atas tetesan pertama hujan malam ini.

Kilas (5).

Hallo, aku akan menceritakan kisah Kilas.

Akan kuceritakan semoga secara singkat.

“Teman, jangan dahulu kau lupakan aku”,

Begitu kira-kira hal pertama yang terucap oleh Kilas ketika aku mendatanginya kembali. Bukan tanpa maksud aku melakukan perbuatan kurang ajar itu. Kurang ajar karena sudah hampir setahun aku tidak menemuinya. Aku hanya sedang sibuk dengan urusan satu dan lainnya. Ya, sibuk. Aku tidak melihat adanya kesalahan dari itu. Toh semua orang pasti sibuk dengan segala urusannya. Bahkan kalian bisa mengatakan sibuk ketika kalian sedang menghabiskan waktu sehari penuh untuk menonton film yang kalian suka.

Pada kesempatan kali ini, sebenarnya sangat banyak kisah yang Kilas bagikan kepadaku. Jika kuceritakan satu-persatu kepada kalian akan sangat memakan waktu. Hmmm, aku bingung bagaimana harus memulainya. Kilas bercerita banyak hal mengenai pergolakan hidupnya selama kami tidak bertemu. Aku menamakannya Kilas Dalam Pencarian. Cocok untuk menggambarkan proses yang ia alami. Tak ada moment spesifik yang diceritakan. Ia hanya banyak bercerita mengenai apa yang ia sedang rasakan. Ia merasa seringkali ingin berteriak sekencang-kencangnya, namun tak pernah bisa. Ia rupanya takut, pada dirinya sendiri. Bahkan ia berkata bahwa ia takut akan menjadi tidak waras alias gila.

Untuk seorang yang mengenal Kilas, aku lumayan kaget dengan pernyataannya itu. Kilas yang aku tahu adalah seorang yang selalu tertawa, berani, peduli sesama, meski kadang cengeng dan pemalu. Tak pernah tersirat sedikit pun dibenakku Ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Aku rasa Kilas sedang berusaha menyembuhkan sendiri luka yang ia alami. Namun sayang, dirinya tidak cukup kuat untuk melakukan itu.

Kilas masih terpuruk akan memori sedih masa lalunya yang satu persatu teringat kembali. Terpuruk akan penghianatan-penghianatan yang dilakukan oleh orang-orang yang ia percaya, oleh mimpi yang tak pernah pula ia dapatkan. Bukan menjadi dendam, hanya saja Kilas mulai muak dengan dunia yang sedang dijalaninya. Satu-satunya jalan keluar yang ia pikirkan adalah pindah. Pindah dari zona nyamannya saat ini. Meskipun sebenarnya zona tersebut lebih cocok dikatakan sebagai zona berbahaya. Ia berusaha mempersiapkan dirinya untuk hari dimana ia akan pindah. Aku bertanya, kemanakah kiranya ia akan pindah. Kilas masih belum mau mengatakannya. Bahkan tidak juga mengatakan clue-nya. Ya, minimal aku masih melihat adanya sifat sok misterius Kilas disini.

Oh ya, satu hal pula yang tidak pernah ia lewatkan dan seringkali ia perlihatkan secara tidak sadar padaku. Rasa syukur atas segala hal yang dialaminya. Tidak masuk akal memang bagi beberapa orang. Tapi justru bagi Kilas, itulah yang paling masuk akal demi terus menjalani kehidupannya. Aku jadi teringat kembali bahwa Kilas melalui suatu perumpamaan berkata,

“Ketika Tuhan memberikan dua buah mata, mengapa tidak bersyukur melihat melalui keduanya? Bukan hanya melalui salah satunya”.

Kilas,
memang selalu saja punya hal menarik untuk diceritakan.


Sumber foto: Foto diabadikan oleh kamera ponsel saya. Bagi kalian yang pernah mendatangi lokasinya, semoga kita dapat bertemu pada kesempatan baik.